Berita Indonesia Terbaru

Menolak Jodoh Dari Orang Tua, Samakah Dengan Durhaka

Menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah yang begitu dianjurkan karena membuat seseorang akan lebih mudah terhindar dari yang namanya perzinahan. Meski pun begitu, alangkah lebih baik pernikahan itu dilandasi rasa suka sama suka agar dalam membina rumah tangga tidak terjadi perasaan menyesal.
Oleh karena itu, tidak jarang orang tua yang berusaha untuk mencalonkan pasangan hidup untuk anaknya yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan anaknya. Namun di lain pihak, sang anak yang dicalonkan tersebut merasa takut jika menolak permintaan orang tuanya ia akan menjadi anak yang durhaka. Lalu, apakah benar seorang anak yang menolak berjodoh dengan pilihan orang tuanya itu sama saja durhaka kepada mereka ?
Sesungguhnya dalam ajaran agama Islam, penolakan yang dilakukan oleh anak tersebut bukanlah sebuah perbuatan yang dilarang apalagi durhaka karena itu merupakan hak seorang anak tersebut. Orang tua seharusnya tidak patut untuk memaksa anak untuk menikah dengan orang yang tidak disukainya. Masalah ini sudah jelas disebutkan di salah satu hadist Rasulullah seperti berikut :

Dari Abu Said Al Khudri, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa putrinya. Orang ini mengatakan, “Putriku ini tidak mau menikah.” Nabi memberi nasehat kepada wanita itu, “Taatilah bapakmu.” Wanita itu mengatakan, “Aku tidak mau, sampai anda menyampaikan kepadaku apa kewajiban seorang istri kepada suaminya.” (merasa tidak segera mendapat jawaban, wanita ini pun mengulang-ulangi ucapannya).
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :
“Kewajiban istri kepada suaminya, andaikan di tubuh suaminya ada luka, kemudian istrinya menjilatinya atau hidung suaminya mengeluarkan darah, kemudian istrinya menjilatinya, dia belum dianggap sempurna menunaikan haknya.”
Maka wanita itu pun berkata, “Demi Allah, Dzat yang mengutus anda dengan benar, saya tidak akan menikah selamanya.” Maka Nabi berpesan kepadanya, “Jangan nikahkah putrimu kecuali dengan kerelaan.” (Hadist Riwayat Ibn Abi Syaibah)
Hal tersebut sering sekali terjadi dan orang tua tetap memaksakan kehendaknya untuk melangsungkan pernikahan walaupun anaknya menolak. Maka, anak tersebut pun sudah pasti akan tidak rela dan dapat berdampak buruk pada berlangsungnya rumah tangga yang dibangun itu. Rumah tangga yang dibangun dalam keadaan tersebut biasanya akan berakhir dengan bercerai.
Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan mengenai kebolehan bercerai atau memilih melanjutkan pernikahan yang dijelaskan di dalam hadist dari Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas telah menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melaporkan bahwa ayahnya akan menikahkannya sementara dia tidak suka. Kemudian Rasulullah memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah).
Sehingga, kesimpulan yang dapat kita ambil bahwa seorang anak dibolehkan untuk menolak jodoh yang sudah ditetapkan oleh orang tuanya. Namun, disarankan untuk terlebih dahulu mencari tahu akhlak dan agama dari calon suami tersebut. Jika sang calon suami dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, sebaiknya pilihlah calon suami yang seperti itu. Jika buruk akhlak dan agamanya, tetapi rasa cinta melekat kepadanya, sebaiknya ditolak karena akan membuat kita menyesal di kemudian hari.

Wallahu A’lam

0 comments:

Post a Comment